Memaknai Buku (Semusim dan Semusim Lagi)

​Kalau ngomongin dinamika karakter dan titik mula konflik, cerita ini berfokus pada seorang gadis—kita sebut saja namanya Ani—yang punya hubungan sangat dingin sama ibunya. Di sisi lain, ia juga sudah lama terpisah dari ayahnya yang merupakan seorang pengusaha kaya raya. 


Suatu hari, Ani menerima surat undangan untuk mengunjungi ayahnya di luar kota. Tapi sesampainya di sana, ayahnya masih dalam perawatan dari sakit kerasnya jadi mereka nggak bisa langsung bertatap muka. ​Selama menanti waktu untuk ketemu ayahnya, Ani tinggal sendirian di salah satu rumah mewah milik ayahnya itu. Urusan finansial dan fasilitas sih semuanya tercukupi. Ani juga dibantu sama asisten ayahnya, J.J Henry, serta anak dari asisten tersebut yang bernama Muara.

​Secara kasat mata, kehidupan Ani tampak baik-baik saja. Tapi, akar masalah sebenarnya terletak pada kondisi psikologisnya. Ani nggak pernah punya hubungan yang hangat sama kedua orang tuanya, dan dia juga nggak pernah punya teman untuk berbagi rasa maupun bertukar pikiran. Akibatnya, sejak kecil hingga lulus SMA, segala pemikiran dan pergolakan batinnya cuma mengendap di kepalanya sendiri. Dia nggak pernah bisa mengutarakannya, dan nggak pernah ada sosok yang memberi feedback atas semua hal yang dia pikirkan dan rasakan.

​Nah, aku rasa semua masalah besarnya bermula waktu Ani diundang ke rumah tetangganya, Oma Jaya. Di sana, Oma Jaya memperkenalkan "suaminya" yang ternyata adalah seekor ikan bernama Sobron. Seperti halnya reaksi kita sebagai pembaca, Ani awalnya pasti heran atau menganggap hal itu aneh. Tapi tanpa disadari, momen itu jadi pemicu di alam bawah sadarnya: ternyata alternatif untuk berbagi cerita itu nggak harus selalu kepada manusia, tapi bisa juga kepada hewan.

​Keesokan harinya, setelah Ani melewatkan setengah hari yang absurd, dalam kondisi pusing dan mual, ia "melihat" keberadaan Sobron di rumahnya. Awalnya dia heran, kaget dan gak percaya, ada sosok Sobron tapi ini versi yang sebesar manusia dan bisa bicara. Ani perlahan menyesuaikan diri dan mulai menanggapi percakapan Sobron. Layaknya manusia, Ikan tersebut nggak cuma bisa merespons, tapi ia juga bisa memberi instruksi.

​Jika selama ini pikiran-pikiran liar Ani cuma tertahan di kepala dan dia sadar itu sebatas imajinasinya, kali ini beda. Kehadiran Sobron membuat Ani merasa akhirnya menemukan sosok "di luar dirinya" yang mau mendengar dan memberi arahan. Ani pun memercayai semua ucapan Sobron sepenuhnya.

​Halusinasi ini berujung fatal. Sobron memberi tahu Ani kalau dia hamil, dan waktu Muara menyarankan Ani untuk memeriksakan diri dan menggugurkan kandungan, Sobron —yang keberadaanya hanya bisa dilihat Ani— justru menghasut Ani untuk menusuk Muara dengan pisau. Akibat kejadian ini, Ani ditangkap oleh pihak kepolisian.

​Melalui serangkaian pemeriksaan medis dan penyelidikan oleh Dokter Iwan, terungkap kalau Ani sama sekali nggak hamil. Penjelasan medis ini jadi bukti bahwa Sobron memang nggak pernah nyata. Sosok itu adalah manifestasi imajinasi dan kerinduan mendalam Ani akan sosok teman bicara—sebuah proyeksi psikologis akibat rasa kesepian dan kekosongan emosional yang dia tanggung sejak kecil.

​Menurutku, penulis berhasil banget memberikan gambaran yang sangat manusiawi tentang bagaimana orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berpikir dan merasakan realitas mereka. Kita diajak melihat dunia langsung dari sudut pandang Ani. Waktu dia tertawa atau menangis tiba-tiba, itu bukan tanpa alasan; ada realitas yang sangat nyata buat Ani, meski tak kasat mata bagi orang lain.

​Bagian yang paling menguras emosi dan berhasil bikin aku meneteskan air mata adalah momen ketika Ani akhirnya bisa bertemu dengan ayahnya. Momen itu digambarkan dengan sangat lembut. Mereka bertemu di saat kondisi Ani sudah sangat menyedihkan. Sang ayah menyampaikan harapan yang begitu tulus agar Ani bisa cepat sembuh dan pulang, serta satu keinginan sederhana setelah penantian sekian lama: dia sangat ingin dipanggil "Ayah" oleh Ani.

​Aku nggak tahu pasti bagaimana akhir perjalanan Ani, apakah dia bertahan, benar-benar sembuh, atau justru menyerah pada kondisinya. Tapi satu hal yang pasti: di balik segala tragedi yang terjadi, Ani akhirnya nggak lagi sendirian. Dia menemukan titik di mana ada sosok yang benar-benar mengenal dan menerimanya secara utuh. Ayahnya.

​Secara keseluruhan, aku sih cukup menikmati novel Semusim dan Semusim Lagi karya Andina Dwi Fatma ini. Gaya penulisannya memikat, meskipun di beberapa bagian rasanya cukup melelahkan untuk dibaca karena pergolakan batin tokoh utamanya yang lumayan intens.

Komentar

Postingan Populer